Total Tayangan Halaman

Sabtu, 29 Maret 2014

u.u

Stupid guys keep #learning

Beberapa hari terakhir menikmati saat-saat berpetualang dengan si biru. Angkot. ^^..
Bukan karena bosan dengan si michan, tapi.. perlulah ya memberi nafas ke si michan.. hehe..

Balik dari kampus. Macet. Hujan. Cucoklah naik angkot..

Ada yang unik. Angkot ini cukup penuh. Aku tempati tempat favorit di angkot. Yap, di samping pintu belakang. Karena kalo ada apa-apa, bisa langsung lompat (*efek pernah ditodong mas2 waktu jaman SMA) Preventif lah yaa u.u

Uniknya, malam kemarin ada 3 pengamen yang masuk ke angkot..
Kloter pertama, mas2 dengan tampang lumayan serem, tato di leher dan tangan, tindik di beberapa tempat, baju hitam-hitam, usianya mungkin lebih tua dari aku, badan tinggi tegap dan kurus, serta bersuara keras, sangat keras.
Kloter kedua, dua adik kecil usia sekitar 13 tahun dan 11 tahun. Menyanyi dengan penuh semangat dan menebar senyum serta tatapannya polos..

Akhirnya iseng aku ngobrol sama si adik-adik ini. Kristian dan Fikri, kakak beradik yang tinggal di sekitaran Margonda Depok. Mereka polos. "Kak, aku sih sukanya lancar, ga suka macet. Tapi pengamen yang lain suka kalo macet. Mereka muka dollar banget." kata si Krisna. "Muka dollar? Apa tuh?" tanyaku. "Matre kak, mikirin duit mulu."

Itulah realitanya..
Masyarakat kita, entah dari kelas mana, lebih suka dengan uang.
Bahkan anak kecil pun bisa menilai.

Lebih baik macet, bisa dapet uang,
Tapi merelakan waktu orang lain berlama-lama meninggalkan rumah, menahan rasa kangen dengan keluarga..
Aaaah.. Depok.. Ini baru di Depok. Gimana di Jakarta.

Gimana di Bekasi, gimana di Bogor, gimana di Tangerang dan gimana di Cianjur?
#KotaMegapolitanBaru

***

Keep learning ^^,


Marii belajar bagaimana mendistribusikan aliran dana dengan baik.
Bukan lagi skala rumah tangga.
Bukan lagi skala satu RW.
Bukan lagi skala satu kota.
Bukan lagi skala satu provinsi.
Tapi skala nasional.
Dan harus siap bersaing di dunia global..
Yeaaah! Nice..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar