Total Tayangan Halaman

Senin, 22 September 2014

Statistik (?!)

Statistik, membuat rangkaian angka  dapat 'berbicara'. Inilah yang aku tangkap ketika belajar statistik beberapa hari yang lalu..

Ilmu statistik adalah ilmu murni yang sering menjadi 'alat' para penguasa untuk lebih berkuasa. Ilmu statistik dijadikan 'pemuas' atas kepentingan pribadi ataupun golongan.

Perlu cermat untuk membaca data yang dihadirkan para pemangku kepentingan. Kenapa? Yaa, karena sekarang lagi nge 'trend' atau lagi 'in' ungkapan: "membela yang bayar" bukan "membela yang benar".

Misal, dalam sebuah pidato seorang walikota yang akan turun jabatan, beliau menyampaikan beberapa hal. 
Salah satunya ialah...
"Wargaku sekalian, dengan segala kerendahan hati, saya merasa bersyukur bahwa di kota tercinta ini tingkat kemiskinan menurun selama lima tahun terakhir. Yakni dari 35% menjadi 32%. Kita berhasil memberantas kemiskinan."
Warga yang hadir pun bersorak gembira. Merasa kemiskinan menurun di kotanya. Mereka merasa bahwa walikota yang akan turun dari jabatannya itu telah berprestasi dan pantas untuk dipilih lagi sebagai walikota untuk periode mendatang.

*Apakah benar demikian?*

Usut punya usut, ternyata jumlah penduduk kota tersebut pun meningkat dengan sangat pesat. Lima tahun lalu berjumlah sekitar 234.600 orang. Akan tetapi sekarang menjadi 1.380.903 orang. Terjadi lonjakan penduduk yang sangat signifikan. 
Jika dicermati, sebenarnya secara kuantitas, berapa banyak warga miskin sekarang dan lima tahun yang lalu? Jika dibandingkan, lebih banyak warga miskin lima tahun lalu atau saat ini?

234.600 orang x 35% = 82.110 orang
1.380.903 orang x 32% = 441.889 orang

Ini faktanya, jumlah warga miskin saat ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Dari 82.110 orang menjadi 441.889 orang. Akan tetapi, jika kita melihat presentasenya, presentase tingkat kemiskinan menurun. Dari 35% menjadi 32% dari jumlah keseluruhan penduduk..

***

Mengasyikkan bukan?
Yaa, tak jarang ilmu statistik 'dipermainkan' untuk kepentingan orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Cermat dalam membaca angka.
Cermat dalam menganalisis.

***

"Ilmu adalah yang membuat kita SADAR atas apa yang ALLAH inginkan dari kita", ujarnya di sesi ketiga.

Ketika ilmu tidak diamalkan sebagaimana mestinya, apakah ia masih pantas untuk disebut sebagai ilmu?
Bijak dalam menggunakan angka.. #Statistik

20.09.14
Terinspirasi dari mata kuliah Ekonometrika #1
Sentul City

Tidak ada komentar:

Posting Komentar