Keluarga baru. Itulah yang kutemukan saat mengikuti sosact FEUI dari tanggal 29 september hingga 3 oktober di desa cijeruk, sukabumi. Berawal dari kisah pertemuanku dengan anak-anak kelompok 39 yang menamakan dirinya mugel (music gallery). Salah satu kepanitiaan di FEUI bawahan dari LIFO yang dinobatkan menjadi salah satu nama dalam OPK (Orientasi Perkenalan Kampus). Awalnya, mugal terdiri dari 16 orang (14 perempuan dan 2 laki-laki). Kemudian, saat sosact, mugal dipertemukan dengan anggota baru dari KKI gelombang 3. Sebagian besar anak mugal sangat bersemangat dan antusias dalam mengikuti segala rangkaian acara. Bangga tak terkira menjadi mentor baru dari mugal.. M U G AL.. em yu gal, em yu gal!! ^^,
Tidak hanya maba 2011 yang kuanggap sebagai keluarga sendiri. Keluarga yang kami tumpangi pun sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri. Namanya ibu Ooy dan pak Bashri. Sepasang suami isteri yang tinggal di RT 3 desa Cijeruk. Rumah mungil tanpa MCK itu menjadi saksi bisu atas riuh ringan canda tawa kami bersama ibu Ooy dan keluarga. Sejak pandangan pertama dengan bu Ooy, kami sudah jatuh hati padanya. Betapa tidak, beliau sangat ramah dan sangat peduli terhadap kami. Anak-anak yang baru ditemuinya saat itu juga.
Ibu bekerja sebagai buruh tani yang bertugas menjaga dan merawat kebun bunga hingga bunga tersebut siap petik dan siap di pasarkan. Walaupun ibu bekerja dari jam 7 pagi hingga jam 4 sore, gajinya tak lebih dari Rp 12,500 per hari. Tak jauh beda dengan sang suami tercinta, Pak Bashri adalah seorang buruh tani yang juga bekerja seharian dan hanya mendapatakan gaji Rp 13,000. Kedua pemasukan tersebut dikumpulkan dan digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari. Anak dari pasangan ini berjumlah 11 anak. Akan tetapi yanbg masih hidup hingga kini hanya 5 orang anak. Anak pertama sudah menikah dan telah dikaruniai seorang anak. 3 anak lainnya putus sekolah. Hanya 1 anak yang berhasil sekolah, kini dia duduk di bangku kelas 5 SD.
Dalam kesehariannya, ibu Ooy bangun pukul 3 atau 4 pagi. Kemudian langsung ke dapur, memasak sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Rela berpanas-panasan di depan tungku dan mencium bau asap setiap pagi. Ibu ooy yang kukenal tidak pernah mengeluh atas segala yang dirasakan dalam hidupnya. Walaupun dalam hidupnya tak pernah memiliki uang lebih dari 1 juta kas, dia tetap merasa bahwa hidup ini indah. Rasa syukur, sabar dan ikhlas terpancar dari senyum terakhirnya saat kami berpisah di minggu pagiu dengannya. Semoga kelak kami dapat dipertemukan kembali, entah itu di jalan, entah itu di depok,di cijeruk, ataupun di Jannah-Nya nanti. Terima kasih bu Ooy atas pelajaran hidup yang berharga ini. Mugals love u ^^,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar