101 alasan mengapa saya memakai jilbab
Suatu ketika muncul pertanyaan dari seorang yang belum memahami islam dan kewajiban-kewajiban seorang muslim atau muslimah: “Kenapa sih kamu pakai jilbab?”
Pertama, alasan yang sederhana adalah bahwa saya memakai jilbab bukan untuk sok-sokan, juga bukan untuk gaya-gayaan, juga bukan karena latah ikut-ikutan, atau tidak bermaksud agar hanya sekedar berbeda dengan yang lain. Sekali-kali tidak. Secara pandangan aqidah islamiyyah dapat saya kemukakan tujuan saya memakai jilbab adalah karena saya ingin taat pada Allah, yang telah menciptakan saya, menyempurnakan kejadian, memberi rezki, melindungi dan menolong saya. Bukankah ketaatan kepada-Nya adalah tanda kita bersyukur atas nikmat-Nya yang banyak? Baik nikmat iman, islam, dan nikmat kesehatan serta berjuta nikmat yang telah Allah berikan.
Pernahkah Anda merenungkan tentang nikmat memiliki mata? Pernahkah Anda menghitung berapa juta banyaknya yang dapat dinikmati oleh kedua bola mata kita? Pernahkah Anda bayangkan -misalnya- Anda seorang buta? Apakah hari-hari dalam kehidupan Anda akan seceria saat ini?
Alasan selanjutnya adalah karena saya ingin taat pada Rasul-Nya, pembimbing ummat dengan risalah beliau. Beliaulah satu-satu teladan ummat dalam mengaplikasikan nilai-nilai Islam. Beliaulah yang menyerukan agar kaum wanita menutup auratnya. Beliaulah yang menyerukan agar setiap manusia menghormati hak-hak wanita.
Dengan syi’ar Islam beliau telah meninggikan derajat wanita dari belenggu kehinaan yang hanya menjadi obyek nafsu semata. Dan beliau pulalah yang mengarahkan agar wanita menjadi subyek dalam proses pembangunan ummat.
Dalam pandangan lain, seperti kaum orientalis Barat sering melontarkan bahwa jilbab itu adalah pakaian wanita yang inferior (rendah), sebab minder bergaul dengan orang-orang modern. Pandangan seperti ini adalah pandangan yang keliru. Ini adalah pandangan penyerang-penyerang Islam yang sedang panik melihat hasil kerjanya sia-sia tanpa makna. Jilbab merupakan pakaian taqwa yang seharusnya dikenakan dengan bangga oleh setiap wanita muslim. Justru dengan memakai jilbab maka akan ada kemuliaan diri (izzah).
***
Sebuah pendapat bernada sumbang berkomentar tentang menjamurnya wanita berjilbab saat ini, “Ah, itu kan orang-orang yang sedang mencari identitas. Biasa... lagi trendy, seperti musik yang lagi ngetop, sebentar juga ga laku lagi.”
Jilbab adalah identitas wanita muslimah yang telah digariskan oleh Allah. Bukan sekadar untuk trend, bukan mode seperti musik yang dipermisalkan di atas tadi. Inilah pakaian yang cocok dengan fitrah wanita. Dengan berjilbab maka kita akan memperoleh ridho Allah.
Lihatlah istri-istri Rasulullah, mereka semua berjilbab. Lihatlah para shahabiah, mereka semua berjilbab dan berbusana muslimah. Bukankah mereka adalah generasi yang layak untuk diteladani? Mereka (para shahabiah) langsung merobek-robek kain panjang untuk digunakan sebagai penutup tubuh ketika turun perintah tentang menutup aurat. Kemudian mereka bertanya pada Rasulullah, “Apakah ini masih kurang panjang ya Rasulullah?” Pantaslah Allah memberikan jaminan surga kepada mereka. Bermula dari jilbab, Insya Allah akan membawa kita juga untuk menapak jalan ke Syurga-Nya.
“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (boleh) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya...” (QS. An-Nur: 31)
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang beriman, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka...” (QS. Al-Ahzab: 59)
Dari kedua ayat di atas jelas bahwa Allah menegaskan bahwa berjilbab merupakan kewajiban bagi wanita yang beriman. Wanita-wanita yang bersih hatinya akan mengakui secara terus terang bahwa jilbab merupakan perintah dari Allah, Rabb semesta alam.
Kewajiban berjilbab juga terdapat dalam hadits berikut:
“Hai Asma, sesungguhnya anak wanita itu kalau sudah sampai datang bulan, tidak panta terlihat tubuhnya, kecuali ini dan ini. Beliau berkata demikian sambil menunjuk muka dan telapak tangannya.” (HR. Abu Daud; 34)
Jadi, jelas bahwa yang berhak memandang aurat wanita adalah sebatas muhrim saja. Dan yang boleh dilihat oleh orang yang bukan muhrim hanya muka dan telapak tangan.
***
Secuil mulut usil menyentil dari pinggir jalan, “Kuno amat sih, di zaman modern ini masih pakai jilbab segala!”
Perlu ditekankan bahwa ajaran islam bukan merupakan ajaran kuno, sebab ajaran islam dapat dijalankan dan berlaku sepanjang zaman. Jadi, hukum-hukumnya dirancang oleh Allah tidak hanya untuk sementara waktu saja sebagaimana hukum yang dibuat oleh manusia. Jika kita men-cap agama islam adalah agama yang kuno, berarti sama halnya kita mengguggat otoritas Allah tentang hal ini.
Sebagian orang beranggapan bahwa modern adalah manakala manusia sudah menemukan teknologi yang tinggi seperti keberhasilan manusia mendarat di bulan, penemuan teknologi satelit, penemuan fiber optik, dsb.
Inilah bentuk dasar pemikiran yang senantiasa ditiup-tiupkan oleh orang Barat terhadap kita. Dan banyak pula yang telah terkontaminasi atau teracuni dengan pemikiran-pemikiran tersebut.
Padahal, kemajuan atau modern menurut Islam bukan hanya menggunakan satu parameter teknologi saja dalam mengukurnya. Justru konsep kemajuan menurut Islam adalah sejauh mana aturan dan hukum-hukum Islam diterapkan di muka bumi ini. Semakin banyak aplikasi hukum Islam di tengah masyarakat, semakin maju ummat ini. Semakin banyak yang berjilabab menandakan kemajuan penerapan aturan Islam semakin berkembang. Semakin banyak yang berjilbab, merupakan salah satu barometer telah terbentuknya lingkungan (bi’ah) Islami.
***
Ada seorang wanita karier yang bertanya dengan nada cemas, “Bagaimana nanti kalau di kantor-kantor menolak untuk bekerja? Jadi ijazah yang selama ini didapatkan akan sia-sia?”
Dengan menggunakan jilbab, karier bukanlah merupakan hal yang sangat penting. Orang yang berjilbab tidak perlu takut untuk menjadi miskin, karena Allah telah mengatur rezki setiap orang. Allah tidak akan membiarkan hamba yang menjalankan perintahNya untuk menderita. Kewjiban kita sebagai seorang muslimah adalah yakin bahwa Allah yang akan mengatur rezki kita, dan tetaplah istiqomah berjalan di atas kebenaran. Sebab, balasan yang diberikan Allah akan jauh lebih besar dibandingkan dengan jabatan yang kita kejar dalam dunia karier.
“Apakah akan menyempitkan lingkup pergaulan, sebab wanita-wanita lain akan canggung jika bergaul dengan kita?”
Hal ini bergantung pada kedewasaan seseorang. Kita harus senantiasa belajar bagaimana menghormati prinsip-prinsip yang diyakini seseorang berdasarkan keimanannya. Soal busana muslimah ini sungguh tidak ada paksaan. Yang siap mengenakannya lakukanlah dengan tulus dan ikhlas. Toh yang dipanggil oleh Allah dalam Al-Qur’an untuk memakai jilbab adalah khusus wanita-wanita yang beriman. Setiap orang bergaul masing-masing dengan kelompoknya. Mungkin atas dasar kesamaan hobi, kesamaan jurusan di Fakultas, kesamaan kampung, kesamaan suku atau yang lebih mendasar lagi adalah berdasarkan kesamaan aqidah.
Manusia kelak masuk surga berbondong-bondong, masuk neraka pun akan berbondong-bondong. Sekarang pilihan terserah kepada kita, apakah mau ikut kumpulan yang ke surga atau ke neraka. Dan dari banyaknya nash yang tertulis, satu syarat agar termasuk kelompok ahlul jannah (ahli surga) adalah yang menutup aurat sesuai aturan syar’i.
”Bagaiman jika orang tua atau suami nantinya meminta kita untuk membuka jilbab?”
Selama dalam rumah dan tidak ada orang lain yang bukan muhrim, maka hal ini tidak masalah.
“Bagaimana jika orang tua atau suami meminta untuk membuka jilbab di luar rumah?”
Katakan dengan tegas bahwa jangan pernah meminta saya untuk mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, termasuk dalam mengenakan jilbab.
“Apakah pakaian seperti itu (hijab) tidak menyebabkan tubuh kita kurang lincah?”
Malah akan lebih lincah, karena jilbab dan busana muslim merupakan pakaian yang longgar. Dengan pakaian yang panjang dan lapang tidak akan menampakkan lekuk tubuh.
“Jika kamu pakai jilbab nanti ga laku lho! Kalau jadi perawan tua gimana?”
Jodoh adalah urusan Allah. Jadi kita tidak perlu repot-repot memusingkan masalah jodoh. Dengan semakin taatnya kita kepada Allah, maka Allah akan senantiasa menolong kita. Allah akan selalu melapangkan segala urusan kita dan akan selalu memberikan kemudahan-kemudahan.
“Apa saja keuntungan-keuntungan jika kita memakai jilbab?”
- Dengan berjilbab maka diri kita akan lebih terlindungi dan tidak menimbulkan fitnah
- Kontrol untuk melakukan maksiat kepada Allah dan penghapus keinginan-keinginan jiwa yang menyimpang
- Tidak ada lelaki yang jelalatan menyisiri tubuh kita (tubuh kita tidak jadi objek cuci mata bagi kaum adam)
- Tidak mudah diganggu lelaki usil, tidak merangsang hawa nafsu
- Akan terlihat lebih anggun
- Pembeda antara kita dengan kaum Yahudi, musyrik, dan kelompok jahiliyah lainnya
- Menjadikan kita tidak silau dengan kemegahan dunia serta perhiasannya
- Dari segi kesehatan, rambut akan tetap terjaga dari debu dan kulit tidak tersengat matahari
Sumber:
101 alasan mengapa saya pakai jilbab (kumpulan argumen atas berbagai suara sumbang terhadap para wanita yang berjilbab