Do Fun! Itulah yang kami lakukan saat berada di Dufan. Yap. Pada tanggal 12 Januari yang lalu aku bersama 6 sahabatku (Ka Shinta, Pipit, Achie, Fia, Neng Jahra dan Soraya) menjelajahi kengerian mencekam di Dufan. Senang rasanya melewati hari bersama mereka berenam. Ukhuwah kami terajut dengan indah di balik suara teriakan-teriakan histeris saat menaiki beberapa wahana yang sangat ekstrem. ^^,
Sekitar pukul 11.00 kami mulai petualangan kami. Kora-kora menjadi wahana pertama yang kami cicipi. Pemanasan yang sungguh luar biasa! Tanpa menunggu antrian yang cukup panjang, kami sudah berada di kapal yang bermuatan kurang lebih 30 orang tersebut. Kami pun memilih posisi yang cukup menantang. Aku, Ka Shinta dan Soraya memilih posisi kedua sebelum ujung, sedangkan teman-teman yang lain memilih tempat paling ujung kapal. Kapal mulai bergerak beberapa menit setelah kami mengisi posisi yang telah disediakan. Ayunan pertama dan kedua “cincaylah yaa”, masih dengan kadar normal dalam berayun. Ayunan ketiga dan keempat semakin tidak manusiawi. Luar biasa! Aku menutup mata rapat-rapat. Tidak peduli dengan orang-orang disebrang yang sepertinya sangat menikmati wahana ini. “SORAYAAAA! SORAYAAAA!” aku histeris dan menjatuhkan kepalaku ke pundak Soraya. Begitupun dengan Soraya, beberapa kali dia meneriakkan namaku. Ternyata tingkat ketakutan kami tidak jauh berbeda. Hehe.. XD Ternyata mataku basah setelah menaiki wahana tersebut. Aku nangis di Kor-kora! Ckckck.. What a shame!
Kora-kora belum menyurutkan semangat berpetualang kami pada hari itu. Kaki-kaki kami mulai melangkah ke wahana lain. Daaan... Kicir-kicir menjadi pilihan yang dirasa tepat untuk dinaiki. Hmm... Sepertinya tidak seburuk Kora-kora. Sempat aku berpikir seperti ini. Dan aku menyesal telah berpikir seperti itu di awal. Di saat mengantri aku langsung mengeluarkan sweater bergambar kamera SLR yang sangat ingin ku beli dalam waktu dekat ini. Aku memakainya untuk berjaga-jaga agar jilbabku tidak lepas. Begitupun dengan temanku yang lain, mereka merekatkan jilbabnya dengan peniti. Deug deug deug.. Jantungku sepertinya berdegup cukup kencang saat antrian di depan mulai menaiki Kicir-kicir. “All iz well” lagi-lagi kata ini yang kuingat untuk menenangkan diriku. Kemudian tibalah giliran kami untuk menaiki wahana yang dapat meningkatkan ketakutan akan kematian (dzikrul maut). Bagaimana tidak, pemain wahana ini diputar-putar 360 derajat di atas ketinggian kurang lebih 3 meter dari permukaan tanah dengan putaran yang sangat tidak manusiawi. Saat petugas mempersilakan kami masuk, dengan segera kami berhamburan untuk menempati posisi yang ditentukan. Achie memilihku menjadi partnernya di permainan ini. Sepertinya akan seru! Oke... Sabuk pengaman sudah terpasang dengan kencang. Di sebrang terlihat Soraya dan Neng Jahra yang juga sudah siap menempati posisinya. Kulihat tangan mereka erat menempel satu sama lain. Mungkin mereka merasa aman dengan saling bergandengan tangan. Kemudian aku menyapa partnerku yang juga sudah siap di sampingku. “Bismillah chie!” Achie pun membalas sapaanku dengan anggukan mantap dan mata yang penuh dengan rasa optimis. Yaaa.. itulah yang aku sukai dari sosok temanku yang satu ini. Dia selalu menganggap sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah hal baik. Karena itulah selalu terpancar aura positif dari kedua bola matanya.
Yaaap. Kicir-kicir mulai menunjukan kebolehannya. Kami diputar-putar di atas ketinggian kurang lebih 3 meter dari permukaan tanah. “Waah.. lebih mending ini dari pada Kora-kora” kurang lebih seperti itu kata-kata yang dilontarkan Neng Jahra setelah Kicir-kicir berhenti untuk sesaat. Kami pikir itulah akhir dari wahana ini. Akan tetapiiii... Kicir-kicir mulai berputar lagi. Dan ini sungguh luar biasa! Kicir-kicir mungkin sedikit marah saat diremehkan. Kicir-kicir meningkatkan kemampuannya menakuti kami. Putarannya semakin tidak manusiawi. Semakin kencang! “Huaaaaaaa... ACHIIEEE!! ACHIEEE!!” aku berteriak memanggil teman yang ada disampingku. Sedangkan Achie sibuk dengan jilbabnya yang sudah tidak karuan bentuknya. Huuuuh.. Aku lemes selemes lemesnya saat turun dari Kicir-kicir. Speechless!
Setelah Kicir-kicir yang sangat menegangkan, kami mengademkan suasana hati dan pikiran kami. Kami memilih istana boneka sebagai wahana selanjutnya yang kami cicipi. Ternyataaaa BOSAN! Tak ada yang berkesan di wahana ini. Kami putuskan untuk menghabiskan waktu untuk ngobrol di atas kapal. Ka Shinta sudah menundukkan kepala saat kami berbincang satu sama lain. Berkali-kali dia mengatakan “Gw ga mau kayak dono. Gw ga akan muntah!” dia berazzam. Mukanya sudah pucat sejak naik Kora-kora. Dia pun menunduk lesu. Hingga istana boneka terlewati, dia masih muram dan pucat. Akhirnya kami putuskan untuk istirahat makan dan sholat dzuhur.
Setelah makan dan sholat, kami mulai lagi petualangan kami. Histeria ternyata ada di dekat Musholla. Oh NOOOO!!! Tanpa pikir panjang Pipit dan Achie memutuskan untuk menaiki wahana ini. Sejujurnya, inilah pertama kalinya aku mencoba Histeria. Aku cukup ngeri saat mengantri. Akan tetapi... Ternyata menyenangkan naik Histeria! Serius! Apalagi saat berada di posisi yang tepat mengahadap arah laut! Itu benar-benar menyenangkan. Aku bersama Fia berhadapan dengan laut, di sisi lain ada Achie, Neng Jahra, Soraya dan Ka Shinta yang juga mengahadap laut. Pemandangan yang tak terlupakan. Ternyata bersih juga pantai Ancol! Harus dicoba lagi naik Histeria!! d^^b
Setelah Histeria, sekarang saatnya mencoba Alap-alap. Wahana sejenis halilintar,tapi dengan ukuran yang lebih mini. Untuk wahana kali ini aku putuskan untuk berpartner dengan Fia. Poin penting ketika mencicipi wahana ini adalah: sebaiknya memilih partner dengan berat badannya di bawah rata-rata, dengan kata lain tidak terlalu berat. Mengapa? Karena wahana ini membuat posisi kita miring semiring-miringnya, sehingga akan ditindih-tindih oleh teman di samping kita. Daaan untunglah Fia enteng. Hehe.. :D
Alap-alap terlewati tanpa meninggalkan ketakutan mencekam. Next destination is TORNADO!! Aigooooo! Ibarat sks, Tornado merupakan wahana dengan 6 sks. Huuuuh... Untuk wahana yang satu ini aku benar-benar takut. Aku putuskan untuk tidak naik Tornado! Duduk manis di pinggir wahana sembari melihat teman-teman dan sesekali memberi semangat adalah hal yang aku lakukan. Aku tidak menaiki wahana ini karena aku memiliki sebuah alasan khusus. Ibuku berpesan di saat aku mau berangkat “Fa, kalau bener-bener ga berani ga usah naik ya. Inget jantungmu!”. Itulah yang aku ingat saat akan menaiki tornado. Sehingga aku urungkan niatku untuk menaiki wahana dengan 6 sks yang setara skripsi ini.
Kami meninggalkan Tornado dan melangkan dengan penuh semangat ke Arung Jeram. Wahana ini yang aku tunggu-tunggu sedari tadi. Kami menaiki wahana ini 2 kali. Sangat menyenangkan bermain dengan air. ^^,
Setelah Arung jeram, kami naik Ontang-anting dan Halilintar. Tidak terlalu berkesan. Cukup menyenangkan!! ^^..
Delapan wahana telah kami cicipi. Saatnya untuk beranjak pulang. Kami pulang dengan menggunakan kereta express pukul 19.05 menuju Depok, sedangkan Soraya pulang dengan menggunakan busway. Kami putuskan untuk naik gerbong khusus wanita. It’s my first time! Hohoo.. senangnya mencoba hal-hal baru!! Cukup sepi. Hal yang unik yang kutemukan di gerbong ini adalah beberapa penumpangnya membawa kursi pribadi untuk duduk di pelataran kereta. Aku baru melihat hal ini pertama kali. Selain itu, aku juga melihat penjual menjajakan lontong yang tidak biasa. BESAR sekali!! Dan harganya hanya Rp 2,000. Cukup murahlah yaa.. Tapi aku sudah tidak konsen dengan keadaan sekitar karena aku sibuk menyeka hidungku yang sedari tadi mengeluarkan cairan yang menandakan aku akan FLU!! Huuuuh... Sampai saat aku menulis cerita ini pun aku masih merasakan sesak. Inilah gejala flu yang aku rasakan. Jikalau flu, pasti akan asma.
Walaupun menyisakan asma dan flu, aku sangat senang dapat meluangkan waktu dengan beberapa teman dan merajut ukhuwah :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar