Beberapa jam aku berada di Cirumput berhasil menggoyahkan keinginanku untuk tinggal lama di kota. Hawa yang sejuk, pemandangan yang segar, penduduk desa yang ramah, itulah hal-hal yang dapat dijumpai di sana. Yups.. 3 Februari yang lalu, aku bersama Bapake, Masanip, Hasip n Hanapret ngabuburit untuk berbagi dengan beberapa anak yatim di sana.
Selama perjalanan pulang dari sekolah mereka, aku dan hasip banyak bertutur. Kami di mobil pertama bersama Hanafi sibuk menyanyikan nasyid yang dibawakan oleh Maher Zain. Setelah merasa cukup untuk karoekean, entah mengapa aku dan hasip mulai berujar tentang mimpi. Mimpinya adalah bagaimana meningkatkan nilai dari para penduduk Cirumput untuk dapat menghasilkan sesuatu. Aku agak tersentak, karena ternyata adikku sudah berpikir jauh untuk berkontribusi. Nyata sekali kontribusinya. Di awali pada tahun 2011 lalu, beliau dan beberapa adik kelasnya melakukan program pengabdian masyarakat. Yang disasar adalah pemuda yang kreatif. Hasip dan kawan-kawan mengadakan pelatihan terkait sablon dan memberikan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk latihan para penduduk mudanya. Dan sekarang mereka sudah punya tempat ‘mangkal’ untuk mengasah kreativitas mereka. Belum sampai mendapatkan penghasilan sih sekarang. Tapi bukan itu menjadi tujuan utamanya. Yang terpenting adalah bagaimana membagi ilmu yang dipelajari di kampus untuk diterapkan di masyarakat. Itulah secercah inspirasi yang aku dapatkan sepanjang perjalanan hingga ke hotel.
Setelah banyak berdiskusi, aku mulai berpikir, apakah tepat jika menggunakan ilmu dan gelar sarjana yang aku miliki untuk keegoisan pribadi?
Lalu, sempa terpikir untuk memberdayakan desa dengan mengoptimalkan potensi alam dan penduduk yang dimiliki. Misal: buat tambak ikan dan punya lahan luas untuk ditanami tanaman yang laku di pasaran.. Semoga bisa terealisasi, entah kapan
Ini salah satu pemandangan di Puncak, pagi hari, sekitar jam 06.30an


Tidak ada komentar:
Posting Komentar