Total Tayangan Halaman

Senin, 22 September 2014

SoF

Substance over form..

Salah satu prinsip akuntansi yang sangat kusukai. Substansi mengungguli bentuk. :D


Kesibukan memoles package membuat kita terkadang lupa apa esensi dari suatu hal.. >__<


***

06.09.14
Teringat kelas akuntansi saat matrikulasi
Sentul City

Konsep Kemiskinan (?!)

Bagaimana kita memandang kemiskinan?
Apakah yang dimaksud dengan kemiskinan?

Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dan ketidakberdayaan meningkatkan kualitas hidup adalah indikator seseorang mengalami kemiskinan.
Tapi apakah sebenarnya konsep kemiskinan itu?
Benarkah minimnya harta yang dimiliki merupakan definisi dari kata miskin?
Benarkah kemiskinan yang harus diberantas pertama kali di Indonesia adalah miskin harta?

***

Miskin dalam arti sempit berarti standar harta yang dimiliki berada di bawah rata-rata dari kebanyakan orang. Tapi apakah miskin harta yang menjadi concern yang harus kita berantas?

Lupakah kita dengan definisi miskin lainnya?
Miskin jiwa.
Miskin karakter.
Miskin pendidikan.
Miskin kepribadian.
Miskin moral.
Miskin adab.

Ada kemiskinan lain yang perlu diberantas selain miskin harta.. :)

***

23.08.14
Terinspirasi dari kelas matrikulasi #1
Sentul City

Refleksi

Pertanyaan yang diajukan seorang dosen dan belum dapat memaknai pertanyaan ini dengan baik T__T

"Apa yang kita cari dalam berekonomi?"

***

Hening sejenakMencoba mencerna apa yang ditanyakan dosen

***

Kesejahteraan?Kebahagiaan?

***

"Ekonomi bukan hanya untuk bertahan hidup di dunia. Orientasi berekonomi haruslah jangka panjang. Tak hanya kebahagiaan sesaat di dunia yang menjadi orientasi kita. Akan tetapi kebahagiaan secara hakiki yang menjadi tujuan kita berekonomi."

"Dengan orientasi yang tepat, menjadikan kita dapat berprilaku ekonomi secara tepat."

"Perilaku ekonomi tidak didasarkan pada dorongan emosional, melainkan dorongan rasional. Rasional berdasarkan Al Qur'an dan sunnah."

"Contoh rasional berdasarkan Al Qur'an dan sunnah adalah perilaku yang dicontohkan oleh sahabat-sahabat di zaman Rasul. Umar bin Khattab menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah. Ini salah satu contoh perilaku ekonomi yang secara rasioanal didasarkan pada Al Qur'an dan sunnah."

***

Bagaimana kita memandang ekonomi?Bagaimana kita berprilaku ekonomi?Apakah dorongan emosional atau dorongan rasional yang lebih mendasari kita dalam melakukan prilaku ekonomi?

***

#Refleksi dalam Berprilaku Ekonomi
23.08.14
Terinspirasi dari kelas matrikulasi #1
Foundation of Islamic Economics
Sentul City


Statistik (?!)

Statistik, membuat rangkaian angka  dapat 'berbicara'. Inilah yang aku tangkap ketika belajar statistik beberapa hari yang lalu..

Ilmu statistik adalah ilmu murni yang sering menjadi 'alat' para penguasa untuk lebih berkuasa. Ilmu statistik dijadikan 'pemuas' atas kepentingan pribadi ataupun golongan.

Perlu cermat untuk membaca data yang dihadirkan para pemangku kepentingan. Kenapa? Yaa, karena sekarang lagi nge 'trend' atau lagi 'in' ungkapan: "membela yang bayar" bukan "membela yang benar".

Misal, dalam sebuah pidato seorang walikota yang akan turun jabatan, beliau menyampaikan beberapa hal. 
Salah satunya ialah...
"Wargaku sekalian, dengan segala kerendahan hati, saya merasa bersyukur bahwa di kota tercinta ini tingkat kemiskinan menurun selama lima tahun terakhir. Yakni dari 35% menjadi 32%. Kita berhasil memberantas kemiskinan."
Warga yang hadir pun bersorak gembira. Merasa kemiskinan menurun di kotanya. Mereka merasa bahwa walikota yang akan turun dari jabatannya itu telah berprestasi dan pantas untuk dipilih lagi sebagai walikota untuk periode mendatang.

*Apakah benar demikian?*

Usut punya usut, ternyata jumlah penduduk kota tersebut pun meningkat dengan sangat pesat. Lima tahun lalu berjumlah sekitar 234.600 orang. Akan tetapi sekarang menjadi 1.380.903 orang. Terjadi lonjakan penduduk yang sangat signifikan. 
Jika dicermati, sebenarnya secara kuantitas, berapa banyak warga miskin sekarang dan lima tahun yang lalu? Jika dibandingkan, lebih banyak warga miskin lima tahun lalu atau saat ini?

234.600 orang x 35% = 82.110 orang
1.380.903 orang x 32% = 441.889 orang

Ini faktanya, jumlah warga miskin saat ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Dari 82.110 orang menjadi 441.889 orang. Akan tetapi, jika kita melihat presentasenya, presentase tingkat kemiskinan menurun. Dari 35% menjadi 32% dari jumlah keseluruhan penduduk..

***

Mengasyikkan bukan?
Yaa, tak jarang ilmu statistik 'dipermainkan' untuk kepentingan orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Cermat dalam membaca angka.
Cermat dalam menganalisis.

***

"Ilmu adalah yang membuat kita SADAR atas apa yang ALLAH inginkan dari kita", ujarnya di sesi ketiga.

Ketika ilmu tidak diamalkan sebagaimana mestinya, apakah ia masih pantas untuk disebut sebagai ilmu?
Bijak dalam menggunakan angka.. #Statistik

20.09.14
Terinspirasi dari mata kuliah Ekonometrika #1
Sentul City

Distribusi atau kelangkaan?

Resources and needs..

Sumber daya dan kebutuhan.
Hal yang sering diperbincangkan dalam dunia ekonomi. Sekilas akan saya bahas bagaimana sumber daya yang ada dapat memenuhi kebutuhan yang hadir dalam menjalani hidup.

***

Ketika memaknai dengan perspektif berbeda, maka akan muncul persoalan ekonomi yang berbeda pula.

Bagaimana kita memandang sumber daya?
Bagaimana pula kita memandang kebutuhan?

Sumber daya atau segala sesuatu yang Allah ciptakan untuk memenuhi kebutuhan kita jumlahnya tak terbatas. Hal ini terkandung dalam QS. Al Qamar: 49.

Sedangkan kebutuhan manusia terbatas jumlahnya. Diibaratkan kita sedang merasakan dahaga yang teramat sangat, maka satu hal yang sangat kita cari. Yap. Air. Air yang dapat diminum dan menghilangkan rasa haus kita. Gelas pertama habis tanpa sisa. Gelas kedua pun sama. Tak ada sisa air di dalamnya. Menuju gelas ketiga, ternyata perut kita menolak. Yang dirasa adalah mual. Jika dipaksakan, maka air tersebut akan keluar alias muntah. Yaa.. Itulah hal yang kita rasakan ketika telah mencapai batas maksimum kebutuhan minum air. Hal ini juga dapat dirasakan pada kondisi kebutuhan lainnya.

Dengan melimpahnya sumber daya di alam ini dan terbatasnya kebutuhan manusia yang harus dipenuhi, maka sudah barang tentu seharusnya seluruh kebutuhan dapat dipenuhi. Akan tetapi nyatanya tak seindah teori yang ada. Masih banyak orang yang miskin harta, banyak orang yang mencuri demi memenuhi kebutuhan rumah tangga keluarganya, kejahatan semakin merajalela akibat minimnya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan, sehingga cara-cara haram dan instan pun ditempuhnya.

Yaaa, hal ini sangat mungkin terjadi karena distribusi sumber daya sebagai pemenuh kebutuhan belum berjalan dengan baik. Pihak yang berwenang seperti negara belum mampu untuk mendistribusikan secara adil dan merata sesuai dengan kebutuhan.

Persoalan ekonomi terkait distribusi muncul di sini. Tugas kita adalah meminimalkan kesenjangan dengan cara mendistribusikan harta dengan tepat sasaran. Contoh instrumen yang dapat meningkatkan kualitas distribusi harta ialah pengelolaan zakat, infak dan shadaqah yang baik. Selain itu, tajamnya kebaikan moral para aparat yang mendistribusikan sumber daya baik dari kota ke desa maupun sebaliknya harus menyandang gelar dapat dipercaya dan memiliki komitmen serta integritas yang tinggi. 

***

Berbeda cara pandang ketika kita memaknai kebutuhan adalah sesuatu yang tak terbatas dan sumber daya adalah sesuatu yang terbatas jumlahnya. Permasalahan ekonomi yang muncul adalah akan munculnya teori kelangkaan.
Gap antara banyaknya kebutuhan manusia yang harus dipenuhi dan terbatasnya jumlah sumber daya, maka kita tak akan mengelak dari yang namanya kelangkaan atas sumber daya.

Bagaimana cara mengatasi kelangkaan ini?

Menurut hemat saya, secara mikro dan makro ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni...

- Mengubah cara pandang akan kebutuhan. 
Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Keinginan tak semuanya perlu direalisasikan. Mengapa? Karena boleh jadi keinginan tersebut hanyalah keinginan emosional yang akan berujung pada penyesalan ketika kita memenuhinya. Boleh jadi pula keinginan tersebut bukanlah keinginan kita. Keinginan itu hadir akibat budaya 'ikut-ikutan' yang sebenarnya tidak meningkatkan nilai kita sama sekali.

- Fokus untuk memenuhi kebutuhan pokok. 
Setelah mengubah cara pandang, usahakan untuk dapat mengklasifikasikan, mana kebutuhan mana keinginan. Mana kebutuhan pokok yang harus diprioritaskan, mana kebutuhan yang tidak mendesak. Dan ingat, kebutuhan tak perlu direkayasa. Kalau emang butuh, masukan ke daftar kebutuhan hidup. Jika tidak masuk dalam kebutuhan, maka jangan segan untuk mengeluarkan dari daftar kebutuhan. Karena tak semua hal dapat kita penuhi dan kita lakukan.

- Ketika kelangkaan melanda suatu bangsa atau dalam sekup yang lebih kecil yakni rumah tangga, maka akan sangat bijak jika kita mampu melakukan penghematan. Efisien dalam menggunakan BBM misalnya. Tak perlu menggunakan motor untuk belanja ke tukang sayur yang dekat dengan rumah. Cukup berjalan kaki beberapa menit saja ketika memiliki waktu yang luang untuk berbelanja. Contoh lainnya, tak perlu menyalakan mesin di kantor jika memang hari itu kita tak butuh dengan penggunaan mesin tersebut.

- Meramu tingkat kreativitas.
Desakan untuk memenuhi kebutuhan dengan sumber daya yang terbatas membuat kita semakin kreatif. Ya.. Dengan cara mencari alternatif-alternatif untuk dapat memenuhi kebutuhan kita. Misal, kotoran hewan dapat diolah menjadi gas untuk memasak.

***

Bagaimana menurutmu? Apa yang terjadi di Indonesia? Apa masalah ekonomi yang ada di Indonesia?
Distribusi sumber daya yang kurang maksimal ataukah kelangkaan sumber daya? Atau keduanya?

Ataukah langkanya sumber daya manusia yang berkeinginan kuat untuk mendistribusikan sumber daya sehingga kesejahteraan masih jauh dari benak kita?

***

Dua asumsi di atas merupakan pandangan dari Madzhab Bagir As Sadr dan Madzhab Mainstream. Madzhab Bagir As Sadr berpandangan bahwa tak ada distribusi yang kurang apik menjadi permasalahan ekonomi yang perlu diperbaiki. Sedangkan para pakar ekonomi syariah yang berpegang pada Madzhab Mainstream menganggap kelangkaan (scarcity) menjadi persoalan ekonomi yang harus dihadapi. Hal ini sama dengan konsep ekonomi konvensional yang menganggap kelangkaan menjadi permasalahan utama ekonomi, jika ditinjau dari sumber daya dan kebutuhan.

***

Lack of distribution or scarcity?

20.09.14
Inspirasi hadir di kelas Pengantar Ekonomi Islam #1
Sentul City