Dari sekian banyak pertemuan WMC 530, banyak hal yang diperbincangkan dan Alhamdulillah kaya akan makna. Salah satunya adalah pembahasan mengenai pernikahan. Yaaap.. Siapa yang tidak ingin menikah? Menyempurnakan setengah dien, dengan segala kegembiraan di dalamnya. Masyaa Allah.. :')
Dari sekian pembahasan, berikut aku ringkaskan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyiapkan dan membangun pernikahan...
1. Niat yang lurus dan beranikan diri untuk melamar atau memutuskan pilihan
Segala sesuatu berawal dari niatnya. Niat sebagai pemberat amal pahala atau tak ada nilai tambahnya, karena bernilai kosong? Niat yang lurus karena Allah. Inilah yang harus dikedepankan untuk menikah. Salah satu indikator menikah karena Allah adalah, tak terlalu mempermasalahkan dengan siapa kau akan bersanding. Percayakan semua hanya pada Allah saja. Bagi akhwat, memutuskan pilihan untuk menolah atau menerima harus dalam bimbinganNya, tak asal iya atau enggak.. Istikhoroh dan selalu mendekat padaNya adalah jalan yang bijak untuk menapaki hari-hari proses ta'aruf.
Niat itu letaknya di hati. Tak bisa direkayasa atau dibohongi. Sebaik atau seburuk apapun niat kita, Allah Maha Mengetahui. Semoga kita terhindar dari segala niat buruk. Aamiiin :)
Bagaimana kalo niat kita buruk sejak awal? Istighfar. Luruskan. Istiqomah dengan niat baik.
Bagaimana kalo niat kita yang awalnya baik malah bergeser menjadi buruk karena satu dan lain hal? Istighfar. Evaluasi. Luruskan. Istiqomah dengan niat baik.
Evaluasi niat merupakan salah satu hal yang perlu diulang setiap melakukan perbuatan. Jangan sampe sesuatu yang telah kita lakukan secara maksimal, ternyata tak ada nilainya di mata Allah. Yaa, karena bengkoknya niat kita. Naudzubillah..
2. Pantaskan diri di mata siapapun, utamanya Allah
Memantaskan diri alias mempersiapkan diri secara matang merupakan hal yang penting setelah kita meluruskan niat. Karena pernikahan begitu sakral, dan merupakan penyempurna setengah dien, maka harus ada persiapan dalam diri. Persiapan apa saja? Persiapan fisik, mental, finansial, ilmu, dll. Banyak hal yang harus dipersiapkan agar pasangan kita kelak nantinya tak menyesal telah memilih kita untuk menjadi pasangannya.. Yaaap, do the best version of you!
Berpikir, berbicara, berprilaku dengan sepantas-pantas yang kita mampu. Utamanya pantas di mata Allah.. Kepantasan di mata manusia akan mengikuti.. :)
3. Menikah dengan yang mau dan sekufu
Allah telah menjodohkan kita dengan seseorang yang memang sedari dulu ia adalah jodoh kita. Jadi, jangan khawatir. Enjoy your life. Karena jodoh pastilah Allah yang memberikan 'rasa mau' untuk menikah dengan kita.
Dan tentunya Allah telah memberikan jodoh yang sekufu. Pun di beberapa pernikahan terlihat ada yang 'jomplang', misal: suami jahat tapi istrinya baik, mungkin ini ujian yang Allah beri sebagai bentuk rasa sayang Allah kepada hambaNya.
4. Melanggengkan Interdependensi
Saling ketergantungan atau interdependensi adalah salah satu hal yang harus dibangun antar kedua pasangan. Tidak terlalu mandiri dan tak terlalu manja. Yap, sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Saling bergantung satu sama lain ini bermakna luas. Kalo seorang akhwat, menggantungkan ridho atau password ke surganya dengan cara mentaati suami dengan tulus ikhlas. Sedangkan sang suami menggantungkan diri dalam mengelola kehidupan pribadinya kepada istrinya. Saling bergantung, dan harus saling memahami bahwa ketergantungan adalah sesuatu yang lumrah dan harus dilanggengkan dalam kehidupan suami istri. Dengan saling bergantung ini, lahirlah kepercayaan dan keterikatan hati yang saling memahami satu sama lain. Sehingga benih-benih cinta selalu terpupuk dengan apik.
5. Menjaga keterikatan hati, keberduaan
Semua berawal dari hati. Jika hati antar suami istri belum terikat, lalu apalagi yang diharapkan? Hati antar pasangan harus terikat dengan cinta hanya padaNya. Kebersihan, kesucian, kelapangan, keikhlasan, ketulusan, kerelaan ini harus sama-sama dibangun dan diperjuangkan. Keberduaan yang melahirkan hati yang semakin terikat. Maka, tak perlu sungkan untuk selalu menemani pasangan dan meluangkan waktu untuk berdua saja, tanpa diganggu yang lain. Yeaah.. Momen keberduaan harus direncanakan dan selalu diagendakan. Quality time with your wife or husband! :3
6. Menantang suami, berarti memberikan lampu hijau
Salah satu hal yang diingat adalah, lelaki itu semakin ditantang, akan semakin melegalkan. Yaa, ibarat lampu lalu lintas, menantang suami berarti memberikan lampu hijau. Misal menantang untuk poligami, ya, dia mungkin akan melakukan..
Ustadzah, mau nanya dong..
BalasHapusPernyataan yang ini --> Salah satu indikator menikah karena Allah adalah, tak terlalu mempermasalahkan dengan siapa kau akan bersanding. Percayakan semua hanya pada Allah saja.
kalau maunya misal anak FTUI gitu berarti ga boleh ya?
Neneee.. :D dasaaar kau.. hehe
BalasHapusBerdoa aja Nee u.u