TALKSHOW SESI 2: Jumat, 4 Maret 2011
Film sebagai media dalam menyebarkan pendidikan dan nilai-nilai budaya
Niniek L. Karim, FFI
Film (audiovisual) sangat memengaruhi mental dan karakter para penontonnya. Hal negative lebih banyka ditiru daripada hal positifnya.
Buat film:
-perlu analisis dulu sebelum buat film (harus punya ilmu, perkaya nurani, perhalus kesadaran social -> sebab akibat)
Sang Pencerah -> pertentangan.
Semua orang butuh pemahaman dan harus mencari pemahamnannya. Akademisi berkewajiban untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Gunakan logika (sebab-akibat) yang jelas dalam bertindak.
Nurman Hakim, sutradara film islam
Buat film bertema islam (Khalifah dan 3 Doa 3 Cinta) dan mengandung nilai-nilai islam.
Membuat film yang bedasarkan lingkungan pribadi -> beliau merasa kewajibannya telah terbayar dengan membuat film dan mencerdaskan orang lain. Background seseorang memengaruhi pembuatan film oleh seseorang.
Penafsiran ayat-ayat al Quran harus tepat.
-Reaksi film islam
Ada yg protes, ada yang setuju.
Seharusnya harus menonton secara menyeluruh, menganalisis dan barulah mengkritisi. Jangan menjudge sesuatu dari kulitnya. Jangan ada pikiran negative dalam melihatnya.
Film adalah cerminan dari masyarakatnya -> sekarang sedang mencari identitas islam (1). Pembaharu (2) ex: hablum mi nan nas, hablumminallah..
Bpk Bantoro (Dirjen Perfilman)
Sinema Elektronik (sinetron) celakanya berepisode. Harusnya film tv yang banyak ditayangkan (sekali habis) pesannya samnpai. Kalo sinetron, pesannya ga nyampe klo kita nonton setengah-setengah.
Lembaga sensor film tak ubahnya bagai seonggok pasir yang dapat meredam asinnya air laut (filter).
Pembinaan penonton itu perlu, sehingga penonton bisa mengkritisi. Kenapa tidak ada pembinaan untuk film maker? Pemerintah berperan dalam regulasi dan penonton yang cerdas dalam mengkritisi.
Bagaimana mekanisme mensensor dalam Lembaga Sensor Film? Diputar sangat cepat. Adegan yang di cut adalah adegan ciuman lebih dari 2 detik. Anggota : 45 orang.
Pilih orang-orang yang tepat siapa aja yang menduduki posisi di lembaga sensor film (harus independen).
(?) Dimas Jayadinekat : Dampak dari film? Komentar Pak Jero Wacik, Indonesia dituntut untuk memproduksi 200 film. Untuk buat film aja sulit. Itu bagaimanan menanggapi kata-kata Pak Jero Wajik? Sementara film pendek di Indonesia kurang berimpact. Jadi, bagaimana membentengi film luar dengan film Indonesia.
è Bantoro (Dirjen Perfilman) : Pemerintah tidak bertanggung jawab dalam membuat film secara langsung. Pemerintah hanya sebagai stimulant. (penyedia fasilitas baik financial maupun non financial). Pemerintah membantu dalam membuat kebijakan. Ada wacana daya ungkit (film Indonesia : film luar negeri -> 60 : 40). Pemerintah membuat kebijakan 0% pajak untuk barang-barang yang berhubungan dengan perfilman (peralatan dan bahan baku). Pemerintah membantu dalam membangun bioskop (penyediaan film-> ex: dari pusat ke daerah dengan kualitas yang baik. Koordinasi pembagian film lebih jelas dan merata di seluruh Indonesia. Serentak pemutaran di Indonesia.)
è Niniek L. Karim (FFI) : FFI dapat meningkatkan produksi perfilman. Tujuannya untuk mengapresiasi film documenter, film pendek, dll. Beri masukan ke direktorat perfilman untuk membuat kebijakan yang adail agar tidak memenangkan salah satu pihak saja(conflict of interest).
è Nurman Hakim : Pajak Film 0% (dalam 1 tahun) -> 2006. Benchmark dari LN (Amerika, Perancis, dll) :ada anggaran dana u/ film maker baru dengan membuat scenario. Tujuannya memotivasi orang u/ membuat film. Islam = agama yang damai.
(?) Hasanudin (FTUI) : Film Islam belum ada yang untuk anak-anak. Baik tidak film2 islam yang terinternalisasi dari film Eropa?
è Niniek L. Kariem : Tonjolkan budaya asli daerah. Bahasa betawi adalah milik orang betawi. Setiap daerah memiliki bahasanya sendiri. Setiap bahasa memiliki keunikan dan keindahan tersendiri. Tak apa meniru bangsa lain untuk proses pembelajaran. Hargai identitas social tanpa harus menjadi ekstrem. Dan hargai orang lain juga. Tak ada yang dapat merubah saya dari orang islam.
è Bantoro : berikan yang terbaik buat bangsa dari diri kita.selama 1 tahun berapa kali menonton, mengkritisi, mengkaji film2 islam? Jadilah diri sendiri, berbuat baik dari yang kecil2.
(?) Film2 LN membawa nilai2 islam di dalamnya? Bagaimana memajukan film Indonesia dan ekspor film Indonesia?
Bagaimana melakukan kerja sama dengan orang luar?
è Bantoro : Kerja sama -> MoU an di bidang perfilman (dengan Turki). Putar perfilman di Turki. Pembuatan film di daerah Indonesia oleh film LN. Ingin mendunia (bekerjasama dengan Negara-negara Islam).
è Niniek L. karim : software kita sudah bagus, kita tak perlu bergantung pada pemerintah. Mari cari cara untuk membiayai film sendiri. Jadikan sineas film yang mandiri. Alat menciptakan keberagaman yang harus nikmati dan hargai. Ingat!! Kita harus menghormati keberagaman dengan ikhlas dan tuntas.
*belum diedit secara baik. hahaa.. banyak tugas euuy ^^,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar