9 hari di Bumi Allah
Kurang lebih 6 bulan ibu dan bapak merencanakan untuk pergi umrah sekeluarga. Kupikir ini hanyalah wacana untuk menyenangkan hati kami belaka. Eeeh.. ternyata mimpi itu menjadi nyata. Alhamdulillah…
Rencana mulia itu terealisasi pada tahun 2011 dari tanggal 11 Maret hingga 18 Maret. Kami dipanggil oleh Allah untuk bermunajat padaNya di Mekkah dan di Madinah, rumah terbaikNya di dunia yang fana ini. Kami menjelajah Mekkah dan Madinah ber 23 orang. 21 orang dari keluarga kami yang terdiri dari bapak, ibu, mas Hanif, aku, Hashif, Dek Hasna, Hani, Mas Aim dan Hanapi serta keluarga Om Dondy dan Bule Lily dan juga keluarga dari Temanggung, yakni Mbah Pudjo, Mbah Nani, Mbah Sindu, Mbah Endang, Pakde Yanto dan Om Hendro. Selain keluarga sendiri, umroh pertamaku ini juga ditemani oleh keluarga pak Ilyas yang terdiri dari Om Ilyas, Tante Erma, Hadi dan Kiky. Dan untuk menambah keberkahan yang sekaligus jadi guide selama di sana adalah Ustadz Ja’far dan Siddiq. Ternyata berwisata bersama keluarga besar adalah hal yang sungguh sangat menyenangkan.
Perjalanan kami penuh dengan suka duka, ujian dan tantangan dan juga kebahagiaan tiada tara. Cerita tersebut akan aku rangkum dalam sub bab di bawah ini (kayak pelajaran aja. Hehe…). Oke deeh.. akan aku mulai cerita ini dari perjalanan menuju bandara.
Perjalanan ke Soekarno Hatta
Tepatnya pukul 14.55 kami keluar rumah dan mulai berdoa untuk memohon keberkahan dan keselamatan selama di perjalanan. Doa dipimpin langsung oleh Bapak, dan diakhir dengan sesi foto-foto serta saling bersalaman dan meminta maaf. Video ada di handy cam dan belum sempat aku convert dan pindahkan ke laptop.
Sekitar pukul 15.15 kami mulai memasuki mobil untuk meluncur ke Soekarno Hatta. Kemudi innova dipercayakan kepada Mas Parno, sedangkan kemudi Kijang Kapsul dipercayakan sepenuhnya pada Pak Fitri. Perjalanan cukup macet dan membutuhkan waktu sekitar 2.5 jam. Sekitar jam setengah 6 kami sampai di bandara. Semua tentengan dibawa turun dan kami langsung bersiap untuk check in. awalnya kupikir semua akan berjalan normal saja. Akan tetapi Allah menguji kesabaran kami di awal keberangkatan. Adikku yang persis di bawahku satu tahun usianya, tidak dapat ikut naik pesawat yang kami tumpangi. Beliau ada masalah dengan pasportnya. Ya Allah… Alhamdulillah Hashif yang diuji, bukan Hanafi atau yang lainnya. Aku percaya bahwa ada suatu hikmah di balik ini semua. Mengapa harus Hashif yang diuji dengan ujian tersebut padahal jemaah dari travel GSM kurang lebih 80 orang.
Bapak dan ibukku pasrah atas ujian ini, mereka ikhlas dan tidak berniat untuk menuntut ataupin menyalahkan GSM atas kejadian tersebut. Akhirnya adikku berangkat pukul 1 siang keesokannya bersama 4 orang lainnya yang juga bermasalah dengan paspornya. Ada yang kurang rasanya jika salah satu anggota keluarga tidak bersama. Rasanya janggal dan tidak enak.
Kami menaiki pesawat Saudi Arabia tujuan Jeddah pada pukul 19.29. Kami mendapat kursi di lantai 2 pesawat. Alhamdulillah… Pramugari dan pramugara yang melayani kami sangat ramah dan enak untuk dipandang (good looking euy. Hehe..). Beruntung sekali rasanya, pertama kali naik pesawat kualitas internasional dan dilayani dengan pelayanan yang kelas internasional pula.
Lama penerbangan kurang lebih memakan waktu 9 jam 9 menit saja. Lama tenan euy… Dalam pesawat tersebut terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan pelajaran. Berikut adalah hikmah atau pelajaran yang aku rasakan:
- Harga mati untuk menguasai bahasa Internasional (Arab, Inggris dan Cina) dengan tujuan menjelajah bumi sebagai khalifah.
- Kemampuan berkomunikasi itu sangat penting, baik sama orang tua, anak muda maupun sebaya. Terbukalah untuk menerima segala sesuatu. Lepaskan kekangan frame dalam pikiran.
Selama berangkat bener-bener mati gaya. Rasanya lama betul euy... Akhirnya kuputuskan untuk tidur dengan berselimutkan jaket dan selimut yang dikasih oleh mba pramugari. ZZZzzzz…
***
Sesampainya di Bandara King Abdul Aziz, kami menunggu sekitar 1 jam untuk pemeriksaan passport. Kala itu aku pertama kalinya melihat wajah orang Arab dari dekat. Sungguh penciptaanMu begitu indah ya Rabb.
Tak disangka-sangka visa adikku, Hashif Ibadurrahman, terselip di passport bapake. Itulah yang menyebabkan Hashif harus menginap 1 hari di kantor GSM. Kasian sekali nasibnya, pikirku. Tapi bapak berkata dengan bijak, “Ini udah suratan terindah yang Allah kasih, pasti ada sesuatu pelajaran di balik penundaanya.” Aku menyambut perkataan bapak tersebut dengan anggukan yang bersemangat. Itulah bapakku, selalu melihat dari sisi positif.
Berbagai kenangan terukir di tanah Mekkah dan Madinah… Banyak hal yang ingin diceritakan, banyak hal yang ingin dibagi. Akan tetapi kerelaan untuk meluangkan waktu demi kepentingan yang lain akan lebih memberikan kebermanfaatan dibandingkan cerita ini. Hehe.. :D
Ada beberapa perjalanan yang belum bisa di share,
->Perjalanan ke Jeddah
->Perjalanan ke Mekkah
Ke Jabal Rahmah, Makam Siti Khadijah, Rumah kelahiran Rasul, Gua Tsur
->Perjalanan ke Madinah
Ke Raudah
Ke Makam Hamzah, Masjid Qishas, Masjid Kuba, Masjid Kiblatain, Bukit Uhud
Ke semuanya penuh sensasi dan penuh inspirasi. ^^..
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Malik, Ya Kudus, Ya Salaam, Ya Mukmin, Ya Muhaimin…
Sungguh, Nikmat yang manakah yang akan engkau dustakan!!??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar